Persaingan Ketat Disektor Keuangan

0
480
Persaingan ketat disektor keuangan

Persaingan Ketat Disektor Keuangan – Perkembangan teknologi digital telah mengubah perilaku masyarakat di berbagai sektor kehidupan salah satunya yaitu terjadi persaingan ketat disektor keuangan . Selain itu, berbagai model bisnis dan mekanisme kerja baru bermunculan di sektor jasa keuangan, mulai dari financial technology (fintech) ,bigtech ,bank digital hingga aset digital seperti crypto.

Adanya model bisnis baru ini mendorong persaingan yang semakin ketat. Bank konvensional yang seharusnya hanya bersaing dengan bank digital, kini juga harus bersaing dengan fintech atau bigtech. Hal ini tentunya akan menciptakan ekosistem baru bagi industri jasa keuangan dan mengubah persaingan dan industri jasa keuangan di masa depan.

baca juga : Pemasaran Hunian Berlantai 2 dan 3 Kian Semakin Ramai di Pasaran

Teknologi digital memiliki kekuatan untuk membuat entitas bisnis lebih efisien dan efektif dalam bisnis dan operasionalnya, tujuannya juga untuk memberikan kenyamanan, kecepatan dan kemudahan transaksi dan layanan kepada konsumen. Namun, perkembangan yang pesat juga dibarengi dengan kejahatan dunia maya yang semakin canggih.

Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI Arga M Nugraha mengatakan, persoalan ini perlu disikapi secara hati-hati. Karena terdapat perbedaan tingkat kematangan masyarakat, misalnya antara kota dan desa. Masyarakat kota lebih mudah diarahkan ke peralihan penggunaan digital tapi masyarakat di desa lebih banyak kendalanya karena minimnya informasi dan pengetahuan.

Setiap bank berusaha untuk menciptakan layanan digital yang lebih baik yang menyesuaikan dengan perubahan nasabah, sehingga setiap bank tetap mengedepankan pendekatan.

Dengan pendekatan tersebut, telah terjadi pergeseran ke digital bagi nasabah BRI. Hal ini terlihat dari informasi yang di dapat  bahwa sekitar 98, 1 persen transaksi nasabah BRI dilakukan melalui kanal digital, sedangkan sisanya atau sekitar 1,59 persen masih dilakukan secara konvensional  seperti melalui cabang dan sejenisnya. Seperti yang dikatakan direktur digital dan teknologi informasi BRI, Arga M.N bahwa digitalisasi memiliki tiga prioritas, yaitu keberlanjutan, manajemen, dan kepentingan pelanggan. Fokus yang sama pada ketiga hal tersebut harus dimiliki para pelaku di bidang jasa keuangan.

Sementara itu, Rama Notowidigdo, Komisaris Independen Bank Raya sekaligus pendiri Sayurbox, menambahkan tantangan perbankan digital adalah menciptakan ekosistem untuk pengembangan bisnis.

Menurutnya, koneksi berbagai merchant dibutuhkan untuk pembayaran bank digital guna membangun ekosistem. Untungnya, Bank Indonesia (BI) telah mendukung sistem pembayaran untuk memudahkan transaksi pembayaran. Ada juga. QRIS yang saat ini digunakan, sehingga memudahkan bank digital untuk mengakses dan bermitra dengan ekosistem daripada membuatnya sendiri.

Tantangan membangun ekosistem perbankan digital membutuhkan waktu yang lama, meskipun transaksinya difasilitasi dengan pembayaran dengan sistem QRIS. Oleh karena itu, bank digital akhirnya memutuskan untuk tetap bertahan dengan ekosistem yang sudah ada dan tidak ingin membangun ekosistem sendiri agar lebih cepat. Walaupun sudah ada tools menggunakan QRIS yang jauh lebih mudah, masih perlu membangun transaksi, M&A, sekarang akhirnya banyak bank digital yang mau bertahan di ekosistem, misalnya Aladdin bermitra dengan Alfamart, dll.

Menurut Agus Sugiarto, Direktur Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perkembangan digital yang pesat telah melahirkan pemain-pemain baru di bidang tersebut, seperti teknologi fintech dan aset digital berupa cryptocurrency. Tentunya hal ini harus menjadi perhatian semua pihak dan para pengambil keputusan saat ini. Literasi konsumen dan perlindungan konsumen menjadi isu penting yang perlu terus didorong dan ditingkatkan di masa mendatang.

Teknologi digital terus berkembang dan mengarah pada peralihan dari physical contact menjadi physical contactless. “Perubahan ini telah mengubah persaingan di sektor jasa keuangan,” kata Agus.